JourneyVertical.com. Banyak pendaki berpikir, โAh, kuat kok walau belum makan.โ
Ada juga yang sengaja berangkat dengan perut kosong supaya terasa lebih ringan, tidak mual, atau demi โmelatih mentalโ.
Padahal, di gunung, keputusan kecil seperti tidak makan bisa berujung pada masalah besar.
Yuk kita bahas dengan santai tapi jujur: kenapa mendaki dalam kondisi perut kosong itu berisiko.
Gunung Itu Mesin Pembakar Energi

Saat mendaki, tubuh tidak pernah benar-benar istirahat.
- Otot besar seperti kaki, core, dan punggung terus bekerja.
- Jantung dan paru-paru dipaksa kerja ekstra.
- Suhu dingin membuat tubuh butuh energi tambahan untuk tetap hangat.
Secara sederhana, gunung bisa menguras energi 2โ3 kali lebih cepat dibanding aktivitas harian biasa.
Kalau perut kosong?
Artinya tubuh langsung masuk mode defisit bahan bakar.
Risiko Gula Darah Turun (Hipoglikemia)
Tanpa asupan makanan, cadangan glukosa di tubuh menipis.
Gejalanya di gunung sering muncul tiba-tiba:
- Pusing
- Pandangan berkunang-kunang
- Lemas mendadak
- Gemetar
- Mual
- Sulit fokus dan mengambil keputusan
Banyak kasus โpendaki tiba-tiba dropโ bukan karena fisiknya lemah, tapi karena gula darahnya jatuh.
Dan di medan gunung, kehilangan fokus beberapa detik saja bisa berbahaya.
Hipotermia Lebih Mudah Terjadi
Ini yang sering tidak disadari.
Tubuh menghasilkan panas dari energi. Kalau tidak ada asupan, tubuh kesulitan memproduksi panas.
Akibatnya:
- Menggigil lebih cepat
- Tubuh terasa sangat dingin meski sudah pakai jaket tebal
- Tenaga cepat habis
Hipotermia sering diawali dari kurang makan, bukan cuma kurang pakaian.
Saat Perut Kosong, Mental Ikut Drop

Gunung bukan cuma soal fisik. Kita dituntut untuk:
- Navigasi jalur
- Membaca cuaca
- Mengatur waktu
- Kerja sama tim
Saat lapar:
- Emosi jadi labil
- Gampang panik
- Ego naik
- Logika turun
Ini yang sering memicu kesalahan fatal seperti salah jalur, memaksakan summit, atau konflik dalam tim.
Bukan karena tidak kuat. Tapi karena otak juga butuh energi.
Otot Lebih Cepat Kram dan Cedera

Tanpa energi cukup:
- Otot cepat lelah
- Koordinasi menurun
- Langkah jadi ceroboh
Risikonya meningkat:
- Keseleo
- Terpeleset
- Jatuh
- Kram parah
Di medan berbatu atau licin, koordinasi yang buruk bisa jadi awal kecelakaan.
Kenapa Masih Banyak yang Sengaja Perut Kosong?
Beberapa alasan yang sering terdengar:
- โBiar enteng.โ
- โBiar gak mual.โ
- โNanti makan di atas.โ
- โPuasa biar mental kuat.โ
Ada juga yang terpengaruh konten media sosial. Video summit terlihat singkat dan heroik, tapi tidak pernah menunjukkan proses saat tubuh drop.
Kita hanya melihat yang berhasil. Yang gagal atau harus dievakuasi tidak selalu terlihat.
Jadi Harus Makan Banyak?
Bukan soal makan berat. Tapi makan cerdas.
Sebelum naik:
- Konsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi, roti, atau oats.
- Tambahkan sedikit protein.
- Hindari benar-benar kosong.
Saat mendaki:
Cemal setiap 30โ60 menit dalam porsi kecil, misalnya:
- Kurma
- Cokelat
- Energy bar
- Gula aren
- Madu
Makan sedikit tapi rutin jauh lebih baik daripada menunggu lapar parah.
Kesimpulan: Ini Bukan Soal Kuat atau Lemah
Mendaki gunung dalam kondisi perut kosong bukan latihan mental. Itu mempertaruhkan kondisi biologis tubuh.
Banyak kasus drop mendadak, hipotermia, evakuasi, bahkan kematian berawal dari kurang makan.
Gunung tidak peduli seberapa kuat mental kita.
Tubuh tetap bekerja dengan hukum biologi.
Kalau mau selamat sampai turun kembali, pastikan satu hal sederhana: jangan biarkan tubuh kehabisan bahan bakar.

