Home ยป Blog ยป Pendakian Gunung Bukit Raya: Perjalanan Panjang, Melelahkan, Tapi Penuh Makna

Pendakian Gunung Bukit Raya: Perjalanan Panjang, Melelahkan, Tapi Penuh Makna

JourneyVertical.com. Indonesia itu bukan cuma soal gunung-gunung tinggi, tapi juga tentang perjalanan panjang yang penuh cerita. Keindahan alamnya bukan hanya tentang mentari terbit yang menghiasi cakrawala, tapi juga tentang kehidupan liar hewan dan tumbuhan unik yang hidup bebas di belantara.

Salah satu tempat yang menyimpan semua itu adalah Gunung Bukit Raya.

Walaupun namanya ada kata โ€œbukitโ€, jangan salah sangka. Gunung yang berada di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah ini bukan gunung yang bisa dianggap enteng. Dengan ketinggian sekitar 2.278 mdpl, mungkin terlihat biasa saja dibanding gunung lain di Indonesia. Tapi soal jalur, durasi, dan medan? Ini bukan untuk sembarang pendaki.

Pendakian ke Gunung Bukit Raya lebih dari sekadar naik gunung ini adalah perjalanan panjang yang menguji fisik, mental, dan kesabaran.

Menyusuri Sungai Kalimantan Menuju Desa Rantau Malam

Perjalanan menuju titik awal pendakian saja sudah menjadi petualangan tersendiri.

Tips Aman Solo Traveling ke Alam Liar (Panduan Lengkap untuk Petualang Pemula & Profesional)

Di hari kedua, kami melanjutkan perjalanan menggunakan speedboat menuju Desa Rantau Malam. Yang membuat pengalaman ini unik, jalur yang kami lalui bukan laut, melainkan sungai-sungai besar khas Kalimantan.

Lebarnya sungai-sungai ini benar-benar sulit dibayangkan kalau belum melihat langsung. Rasanya seperti berada di tengah โ€œlautanโ€ tapi dengan suasana hutan di kanan-kiri.

Perjalanan pertama memakan waktu sekitar 4 jam menuju Serawai. Kami tiba sekitar pukul 12 siang dan langsung memanfaatkan waktu untuk beristirahat serta makan siang.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menggunakan klotok (perahu kayu bermesin). Nah, di sini sempat terjadi drama kecil. Pengemudi klotok awalnya menolak berangkat karena kondisi air sungai yang surut dan menyarankan kami untuk menginap di Serawai.

Namun, setelah negosiasi cukup panjang (dan tentu saja tambahan biaya), akhirnya kami tetap berangkat sore itu.

10 Alasan Kenapa Kamu Harus Menggunakan Jalur Resmi Saat Mendaki Gunung

Perjalanan dilanjutkan sekitar 4 jam lagi hingga akhirnya kami tiba di Desa Rantau Malam sekitar pukul 7 malam. Suasananya hening, jauh dari hiruk-pikuk kota, dengan air sungai yang sangat jernih.

Malam itu kami menutup hari dengan ritual adat sebuah tradisi yang wajib dilakukan sebelum memulai pendakian keesokan harinya.

Awal Pendakian yang Langsung Menguras Tenaga

Hari ketiga menjadi awal petualangan sesungguhnya.

Pendakian dimulai dari Desa Rantau Malam menuju Pos 4 Sungai Mangan. Baru beberapa langkah saja, tantangan sudah langsung terasa.

Teknik Bertahan Hidup: Cara Membuat Api Tanpa Korek Saat di Alam

Cuaca panas di wilayah Kalimantan benar-benar berbeda dibandingkan dengan gunung-gunung di Pulau Jawa. Teriknya matahari terasa lebih menyengat karena lokasi ini berada di garis khatulistiwa.

Nggak butuh waktu lama untuk merasa lelah. Keringat mengalir deras, tenaga cepat terkuras.

Perjalanan menuju Pos 4 memakan waktu sekitar 9โ€“10 jam, tergantung kondisi fisik masing-masing pendaki. Ini jadi salah satu hari yang cukup menguras tenaga.

Sesampainya di Pos 4 Sungai Mangan, rasa lelah sedikit terbayar. Area camp cukup luas dan relatif datar, mampu menampung sekitar 8โ€“10 tenda kecil. Di dekatnya juga ada aliran sungai kecil yang sangat membantu untuk kebutuhan air.

Medan Berat dan โ€œSeranganโ€ Pacet

Hari keempat, perjalanan semakin masuk ke dalam hutan belantara.

Medan yang dilalui berupa bukit-bukit panjang dengan elevasi naik turun. Tidak ada bonus landai yang panjang, semuanya terasa โ€œkerja terusโ€.

Di sinilah mulai terasa kenapa Bukit Raya dikenal sebagai salah satu pendakian yang berat.

Selain medan, ada satu โ€œtantangan khasโ€ yang mulai bermunculan: pacet.

Gunung Bukit Raya bahkan dijuluki sebagai โ€œkerajaan pacetโ€ karena kondisi hutannya yang lembap dan sangat cocok untuk habitat mereka.

Beruntung, kami sudah siap dengan autan spray yang cukup ampuh mengusir pacet saat menempel di sepatu atau kaki.

Meski begitu, tantangan sebenarnya bukan hanya pacet, tapi menjaga kondisi fisik dan mental. Trekking hari ini terasa lebih berat dibanding hari sebelumnya.

Sekitar pukul 7 malam, saya akhirnya tiba di Pos Bayangan 7. Perjalanan terasa lebih lama karena mulai mengalami cedera di kaki. Otot betis hingga lutut terasa sakit dan mulai mengganggu langkah.

Perjuangan Menuju Puncak Kakam

Ini dia momen yang paling ditunggu sekaligus paling menegangkan: summit ke Puncak Kakam.

Puncak Gunung Bukit Raya memiliki ketinggian 2.278 mdpl dan termasuk dalam Seven Summits Indonesia. Walaupun jadi yang paling rendah di daftar tersebut, tingkat kesulitannya sama sekali tidak bisa dianggap remeh.

Saat itu, kondisi kaki saya masih terasa sakit. Jujur saja, sempat ragu apakah bisa melanjutkan summit atau tidak.

Namun, saya mencoba menguatkan mental. Mengingat kembali perjuangan dari awal waktu, biaya, tenaga semuanya sudah dikeluarkan untuk sampai di titik ini.

Akhirnya saya memutuskan tetap lanjut, tentu dengan tetap mengutamakan keselamatan.

Pendakian menuju puncak memang selalu jadi fase paling berat. Kami berangkat pagi hari, tapi perjalanan pulang ke camp baru selesai saat malam.

Rombongan pertama tiba sekitar pukul 7โ€“8 malam. Saya sendiri baru tiba sekitar pukul 11 malam karena kondisi kaki yang makin terasa sakit.

Salah satu rekan, Bang Rendra, bahkan baru tiba sekitar pukul 4 subuh dengan bantuan porter.

Malam itu terasa panjang. Kami menunggu dengan perasaan khawatir sampai semua anggota kembali dengan selamat.

Turun Gunung yang Tetap Menguras Tenaga

Setelah summit, perjalanan belum selesai. Justru tantangan lain masih menunggu: turun gunung.

Kami menginap dua malam di Pos Bayangan 7 karena keterbatasan lahan di Pos 7. Hal ini memang sudah diatur oleh pihak taman nasional untuk menghindari over capacity.

Awalnya, rencana perjalanan adalah langsung turun ke Desa Rantau Malam setelah summit. Namun, karena kondisi cedera yang dialami beberapa anggota, rencana akhirnya diubah.

Rombongan dibagi menjadi dua tim:

  • Tim pertama langsung turun ke desa
  • Tim kedua (termasuk saya) turun secara bertahap dan menginap lagi di Pos 4

Keputusan ini diambil demi keamanan. Karena di Bukit Raya, jalur turun tidak kalah berat dibanding jalur naik.

Perjalanan Pulang yang Melegakan

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan turun menuju Desa Rantau Malam, lalu kembali ke Nangah Pinoh.

Di titik ini, rasa lega benar-benar terasa. Setelah berhari-hari di hutan, akhirnya perjalanan mulai menuju akhir.

Pendakian ini menjadi salah satu perjalanan terlama yang pernah saya alami. Dan di momen ini, satu kalimat terasa sangat nyata:

โ€œPerjalanan terbaik dari sebuah pendakian adalah pulang dengan selamat.โ€

Ritual Adat yang Wajib Diperhatikan

Salah satu hal yang unik dari pendakian Gunung Bukit Raya adalah adanya ritual adat.

Sebelum meninggalkan Desa Rantau Malam, kami kembali mengikuti ritual yang dipimpin oleh tetua adat setempat.

Buat kamu yang ingin mendaki ke sini, penting untuk memasukkan biaya ritual dalam perencanaan budget.

Biaya tersebut biasanya mencakup:

  • Prosesi ritual
  • Pembelian ayam putih
  • Gelang khusus yang wajib dipakai selama pendakian

Perjalanan Pulang ke Pontianak

Setelah sampai di Nangah Pinoh menjelang magrib, perjalanan dilanjutkan ke Pontianak melalui jalur darat. Kami tiba dini hari dan langsung beristirahat di hotel.

Keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan kembali ke Jakarta.

Biaya Pendakian Gunung Bukit Raya

Total biaya yang saya keluarkan sekitar:

Rp8.691.000

Biaya tersebut sudah termasuk:

  • Open trip
  • Tiket pesawat
  • Hotel
  • Konsumsi pribadi
  • Transportasi

Namun belum termasuk biaya tambahan seperti porter dan ritual adat.

Tips Buat Kamu yang Mau Mendaki Bukit Raya

Kalau kamu tertarik mencoba pendakian ini, berikut beberapa tips penting:

  • Latihan fisik minimal 1 bulan sebelum berangkat
  • Siapkan mental, karena ini pendakian panjang dan berat
  • Gunakan perlindungan dari panas seperti sunscreen dan topi
  • Siapkan waktu cadangan di luar itinerary
  • Budget lebih untuk kondisi darurat
  • Gunakan trekking pole untuk membantu perjalanan
  • Bawa botol minum pribadi

Penutup

Pendakian Gunung Bukit Raya bukan hanya soal mencapai puncak, tapi tentang perjalanan panjang yang penuh cerita.

Tentang rasa lelah, cedera, perjuangan, dan kebersamaan. Tentang bagaimana kita belajar bertahan, mengambil keputusan, dan tetap melangkah meski kondisi tidak sempurna.

Dan yang paling penting, tentang rasa syukur karena bisa kembali pulang dengan selamat.

Kalau kamu mencari pengalaman mendaki yang benar-benar โ€œniatโ€, Bukit Raya adalah salah satu destinasi yang wajib kamu coba.